Pelatihan Dasar Pengolahan Sampah Terpilah di Desa Kolaka oleh YPPS dan Bank Sampah Sesara Nagi
LARANTUKA, 11 September 2026 — Upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah terus dilakukan melalui edukasi dan praktik berbasis masyarakat. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Dasar Pengolahan Sampah Terpilah yang dilaksanakan oleh YPPS Larantuka bersama Bank Sampah Sesara Nagi di Balai Rakyat Desa Kolaka, Larantuka, pada 11 September 2026.
Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur yang memiliki peran penting dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa Kolaka. Peserta terdiri dari Kepala Desa Kolaka dan aparat desa, Kader SALAM, Pokja PIPA (Perlindungan Anak dan Perubahan Iklim), Bank Sampah Sesara Nagi, serta YPPS Larantuka.
Kegiatan dibuka secara langsung oleh Kepala Desa Kolaka. Dalam pembukaan tersebut, kegiatan diharapkan dapat menjadi ruang belajar bersama sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam mengelola sampah mulai dari sumbernya.
Pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai jenis dan kategori sampah, tetapi juga memperkenalkan berbagai cara sederhana untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mengolah sampah agar memiliki nilai manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat.
Menggemakan Gerakan SALAM 3R
Materi utama disampaikan oleh Ibu Elis Lamanepa, selaku pendiri Bank Sampah Sesara Nagi. Dalam pemaparannya, Elis mengajak peserta untuk terus menggemakan prinsip SALAM 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle.
Reduce berarti mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, terutama barang sekali pakai. Reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan, sedangkan Recycle berarti mendaur ulang atau mengolah kembali sampah menjadi produk yang memiliki manfaat.
Salah satu contoh sederhana praktik reuse yang dapat dilakukan setiap hari adalah menggunakan botol minum sendiri. Kebiasaan tersebut dapat membantu mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.
Elis juga menekankan bahwa bank sampah bukan sekadar tempat mengumpulkan sampah, tetapi merupakan pusat edukasi masyarakat untuk belajar memilah dan mengelola sampah dengan benar. Melalui bank sampah, masyarakat dapat memahami bahwa sampah yang dipilah sejak dari rumah akan lebih mudah dikelola dan sebagian dapat memiliki nilai ekonomi.
Peserta diperkenalkan pada tiga kategori utama sampah, yaitu sampah organik, nonorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Masing-masing kategori membutuhkan penanganan yang berbeda sehingga pemilahan sejak dari sumber menjadi langkah penting dalam pengelolaan sampah.
“Sampahku adalah Tanggung Jawabku”
Salah satu pesan penting yang disampaikan dalam pelatihan adalah prinsip “SAMPAHKU adalah TANGGUNGJAWABKU.” Prinsip ini menegaskan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.
Persoalan sampah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah, petugas kebersihan, atau tempat pembuangan akhir. Perubahan harus dimulai dari setiap rumah tangga dengan cara mengurangi sampah, memilah, dan mengolah sampah sesuai jenisnya.
Dalam pemaparannya, Elis juga menyampaikan gambaran mengenai produksi sampah di Flores Timur. Disebutkan bahwa Flores Timur menghasilkan sekitar 120 ton sampah per hari, dengan angka timbulan sekitar 0,4 kilogram per orang. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah membutuhkan perhatian dan keterlibatan bersama.
Sampah juga memiliki keterkaitan dengan perubahan iklim. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan dan peningkatan polusi. Dampak perubahan iklim dapat dirasakan melalui berbagai perubahan lingkungan, termasuk meningkatnya suhu bumi.
Karena itu, pengelolaan sampah tidak hanya berbicara tentang kebersihan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan dan menghadapi tantangan perubahan iklim.
Mengolah Sampah Organik Menjadi Sesuatu yang Bermanfaat
Dalam pelatihan, peserta juga diperkenalkan pada pengolahan sampah organik menjadi kompos dan pemanfaatannya untuk biopori.
Biopori dibuat dengan membuat lubang pada tanah kemudian memasukkan sampah organik ke dalam wadah atau lubang tersebut. Sampah organik yang terurai dapat membantu menyediakan bahan organik bagi tanah di sekitarnya. Untuk membantu proses penguraian, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan air beras.
Sementara dalam pembuatan kompos, peserta dikenalkan dengan beberapa jenis media, yaitu media hitam atau tanah, media cokelat berupa daun kering, dan media hijau berupa daun segar. Bahan-bahan tersebut kemudian dikelola dan dapat dibantu dengan penyiraman air beras.
Pelatihan juga memperkenalkan eco brick, yaitu pemanfaatan sampah plastik atau sampah nonorganik yang dipadatkan ke dalam botol plastik untuk menghasilkan material yang dapat digunakan sebagai hiasan, pajangan, maupun dikembangkan untuk berbagai kebutuhan konstruksi.
Selain itu, peserta diperkenalkan dengan eco enzyme, yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, antara lain sebagai bahan pembersih. Bahan dasarnya dapat berupa kulit buah yang tidak bergetah. Dalam materi yang disampaikan, bahan organik tersebut dicampur dengan air dan gula merah kemudian difermentasi selama sekitar tiga bulan dalam kondisi tertutup sebelum melalui proses pengolahan lanjutan.
Sampah Memiliki Nilai Ekonomi
Bank Sampah Sesara Nagi juga menjelaskan jenis sampah yang dapat diterima untuk kemudian disalurkan ke pabrik daur ulang. Beberapa di antaranya adalah botol air mineral atau PET biru muda, kaleng bekas, plastik campur atau PET bening, aqua gelas dan sejenisnya, kardus, serta kertas HVS.
Sampah yang terkumpul dapat memiliki nilai ekonomi sesuai jenis dan kondisinya. Botol air mineral PET biru muda dihargai sekitar Rp1.000 per kilogram. Kaleng besi seperti kemasan susu sekitar Rp1.000 per kilogram, sedangkan bahan aluminium sekitar Rp2.500 per kilogram.
Aqua gelas dan sejenisnya dihargai sekitar Rp2.500 per kilogram, dengan ketentuan tidak memiliki label atau merek. Sementara kardus dan kertas HVS dihargai sekitar Rp500 per kilogram. Untuk buku tulis, bagian sampul depan tidak termasuk dalam material yang diterima.
Materi tersebut menunjukkan bahwa pemilahan sampah dari rumah tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga berpotensi memberikan nilai ekonomi apabila dikelola secara tepat.
Setelah memeaparkan materi, peserta kegiatan langsung diajak untuk praktek pemilahan sampah dan pembuatan biopori.
“Kita Mulai dari Apa yang Kita Punya”
Sesi berikutnya disampaikan oleh Robertus Nong Soni, selaku Fasilitator Building Sustainability YPPS Larantuka. Robertus mengajak peserta untuk tidak menunggu tersedianya fasilitas yang sempurna dalam memulai gerakan pengelolaan sampah.
“Kita mulai dari apa yang kita punya,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan. Menurut pendekatan tersebut, berbagai barang yang tersedia di sekitar masyarakat dapat dimanfaatkan kembali sebelum menjadi sampah.
Sampah yang dapat didaur ulang dapat dimanfaatkan sebagai wadah tanam atau disalurkan kepada Bank Sampah Sesara Nagi. Bahkan, dalam kegiatan ini muncul rencana untuk membuat nama sekolah di Kolaka menggunakan eco brick sebagai salah satu bentuk pemanfaatan sampah menjadi karya yang memiliki nilai edukatif dan lingkungan.
Program OCOT (One Child One Tree) juga dikaitkan dengan pengelolaan sampah. Tanaman yang ditanam dapat memberikan manfaat bagi kesehatan dan lingkungan, sementara sisa organik dari tanaman dapat dimanfaatkan untuk kompos, biopori, maupun eco enzyme.
Untuk kebutuhan pengairan tanaman, sampah plastik seperti botol bekas juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem irigasi tetes sederhana. Dengan demikian, barang yang sebelumnya dianggap sebagai sampah dapat digunakan kembali untuk mendukung kegiatan penghijauan.
Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta juga membahas Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai upaya memastikan pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu rencana yang akan dikembangkan adalah adanya pernyataan dari rumah tangga mengenai komitmen pengelolaan sampah. Pernyataan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong setiap keluarga mengambil tanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan.
Melalui kolaborasi antara Pemerintah Desa Kolaka, YPPS Larantuka, Bank Sampah Sesara Nagi, Kader SALAM, dan Pokja PIPA, pengelolaan sampah diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan bersama.
Pelatihan dasar ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari tindakan sederhana: membawa botol minum sendiri, mengurangi barang sekali pakai, memilah sampah dari rumah, mengolah sampah organik, memanfaatkan kembali barang yang masih berguna, dan menyerahkan sampah yang dapat didaur ulang kepada bank sampah.
Pada akhirnya, perubahan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Perubahan dapat dimulai dari rumah, dari kebiasaan sehari-hari, dan dari kesadaran bahwa sampah yang kita hasilkan merupakan tanggung jawab kita sendiri. Dengan semangat 3R dan kolaborasi berbagai pihak, Desa Kolaka dapat terus membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)




0 komentar:
Post a Comment