Monday, September 28, 2026

Pelatihan Dasar Pengolahan Sampah Terpilah di Desa Kolaka oleh YPPS dan Bank Sampah Sesara Nagi

Pelatihan Dasar Pengolahan Sampah Terpilah di Desa Kolaka oleh YPPS dan Bank Sampah Sesara Nagi

LARANTUKA, 11 September 2026 — Upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah terus dilakukan melalui edukasi dan praktik berbasis masyarakat. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Dasar Pengolahan Sampah Terpilah yang dilaksanakan oleh YPPS Larantuka bersama Bank Sampah Sesara Nagi di Balai Rakyat Desa Kolaka, Larantuka, pada 11 September 2026.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur yang memiliki peran penting dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa Kolaka. Peserta terdiri dari Kepala Desa Kolaka dan aparat desa, Kader SALAM, Pokja PIPA (Perlindungan Anak dan Perubahan Iklim), Bank Sampah Sesara Nagi, serta YPPS Larantuka.

Kegiatan dibuka secara langsung oleh Kepala Desa Kolaka. Dalam pembukaan tersebut, kegiatan diharapkan dapat menjadi ruang belajar bersama sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam mengelola sampah mulai dari sumbernya.

Pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai jenis dan kategori sampah, tetapi juga memperkenalkan berbagai cara sederhana untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mengolah sampah agar memiliki nilai manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat.

Menggemakan Gerakan SALAM 3R

Materi utama disampaikan oleh Ibu Elis Lamanepa, selaku pendiri Bank Sampah Sesara Nagi. Dalam pemaparannya, Elis mengajak peserta untuk terus menggemakan prinsip SALAM 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle.

Reduce berarti mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, terutama barang sekali pakai. Reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan, sedangkan Recycle berarti mendaur ulang atau mengolah kembali sampah menjadi produk yang memiliki manfaat.

Salah satu contoh sederhana praktik reuse yang dapat dilakukan setiap hari adalah menggunakan botol minum sendiri. Kebiasaan tersebut dapat membantu mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.

Elis juga menekankan bahwa bank sampah bukan sekadar tempat mengumpulkan sampah, tetapi merupakan pusat edukasi masyarakat untuk belajar memilah dan mengelola sampah dengan benar. Melalui bank sampah, masyarakat dapat memahami bahwa sampah yang dipilah sejak dari rumah akan lebih mudah dikelola dan sebagian dapat memiliki nilai ekonomi.

Peserta diperkenalkan pada tiga kategori utama sampah, yaitu sampah organik, nonorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Masing-masing kategori membutuhkan penanganan yang berbeda sehingga pemilahan sejak dari sumber menjadi langkah penting dalam pengelolaan sampah.


“Sampahku adalah Tanggung Jawabku”

Salah satu pesan penting yang disampaikan dalam pelatihan adalah prinsip “SAMPAHKU adalah TANGGUNGJAWABKU.” Prinsip ini menegaskan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.

Persoalan sampah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah, petugas kebersihan, atau tempat pembuangan akhir. Perubahan harus dimulai dari setiap rumah tangga dengan cara mengurangi sampah, memilah, dan mengolah sampah sesuai jenisnya.

Dalam pemaparannya, Elis juga menyampaikan gambaran mengenai produksi sampah di Flores Timur. Disebutkan bahwa Flores Timur menghasilkan sekitar 120 ton sampah per hari, dengan angka timbulan sekitar 0,4 kilogram per orang. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah membutuhkan perhatian dan keterlibatan bersama.

Sampah juga memiliki keterkaitan dengan perubahan iklim. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan dan peningkatan polusi. Dampak perubahan iklim dapat dirasakan melalui berbagai perubahan lingkungan, termasuk meningkatnya suhu bumi.

Karena itu, pengelolaan sampah tidak hanya berbicara tentang kebersihan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan dan menghadapi tantangan perubahan iklim.

Mengolah Sampah Organik Menjadi Sesuatu yang Bermanfaat

Dalam pelatihan, peserta juga diperkenalkan pada pengolahan sampah organik menjadi kompos dan pemanfaatannya untuk biopori.

Biopori dibuat dengan membuat lubang pada tanah kemudian memasukkan sampah organik ke dalam wadah atau lubang tersebut. Sampah organik yang terurai dapat membantu menyediakan bahan organik bagi tanah di sekitarnya. Untuk membantu proses penguraian, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan air beras.

Sementara dalam pembuatan kompos, peserta dikenalkan dengan beberapa jenis media, yaitu media hitam atau tanah, media cokelat berupa daun kering, dan media hijau berupa daun segar. Bahan-bahan tersebut kemudian dikelola dan dapat dibantu dengan penyiraman air beras.

Pelatihan juga memperkenalkan eco brick, yaitu pemanfaatan sampah plastik atau sampah nonorganik yang dipadatkan ke dalam botol plastik untuk menghasilkan material yang dapat digunakan sebagai hiasan, pajangan, maupun dikembangkan untuk berbagai kebutuhan konstruksi.

Selain itu, peserta diperkenalkan dengan eco enzyme, yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, antara lain sebagai bahan pembersih. Bahan dasarnya dapat berupa kulit buah yang tidak bergetah. Dalam materi yang disampaikan, bahan organik tersebut dicampur dengan air dan gula merah kemudian difermentasi selama sekitar tiga bulan dalam kondisi tertutup sebelum melalui proses pengolahan lanjutan.


Sampah Memiliki Nilai Ekonomi

Bank Sampah Sesara Nagi juga menjelaskan jenis sampah yang dapat diterima untuk kemudian disalurkan ke pabrik daur ulang. Beberapa di antaranya adalah botol air mineral atau PET biru muda, kaleng bekas, plastik campur atau PET bening, aqua gelas dan sejenisnya, kardus, serta kertas HVS.

Sampah yang terkumpul dapat memiliki nilai ekonomi sesuai jenis dan kondisinya. Botol air mineral PET biru muda dihargai sekitar Rp1.000 per kilogram. Kaleng besi seperti kemasan susu sekitar Rp1.000 per kilogram, sedangkan bahan aluminium sekitar Rp2.500 per kilogram.

Aqua gelas dan sejenisnya dihargai sekitar Rp2.500 per kilogram, dengan ketentuan tidak memiliki label atau merek. Sementara kardus dan kertas HVS dihargai sekitar Rp500 per kilogram. Untuk buku tulis, bagian sampul depan tidak termasuk dalam material yang diterima.

Materi tersebut menunjukkan bahwa pemilahan sampah dari rumah tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga berpotensi memberikan nilai ekonomi apabila dikelola secara tepat.

Setelah memeaparkan materi, peserta kegiatan langsung diajak untuk praktek pemilahan sampah dan pembuatan biopori.

“Kita Mulai dari Apa yang Kita Punya”

Sesi berikutnya disampaikan oleh Robertus Nong Soni, selaku Fasilitator Building Sustainability YPPS Larantuka. Robertus mengajak peserta untuk tidak menunggu tersedianya fasilitas yang sempurna dalam memulai gerakan pengelolaan sampah.

“Kita mulai dari apa yang kita punya,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan. Menurut pendekatan tersebut, berbagai barang yang tersedia di sekitar masyarakat dapat dimanfaatkan kembali sebelum menjadi sampah.

Sampah yang dapat didaur ulang dapat dimanfaatkan sebagai wadah tanam atau disalurkan kepada Bank Sampah Sesara Nagi. Bahkan, dalam kegiatan ini muncul rencana untuk membuat nama sekolah di Kolaka menggunakan eco brick sebagai salah satu bentuk pemanfaatan sampah menjadi karya yang memiliki nilai edukatif dan lingkungan.

Program OCOT (One Child One Tree) juga dikaitkan dengan pengelolaan sampah. Tanaman yang ditanam dapat memberikan manfaat bagi kesehatan dan lingkungan, sementara sisa organik dari tanaman dapat dimanfaatkan untuk kompos, biopori, maupun eco enzyme.

Untuk kebutuhan pengairan tanaman, sampah plastik seperti botol bekas juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem irigasi tetes sederhana. Dengan demikian, barang yang sebelumnya dianggap sebagai sampah dapat digunakan kembali untuk mendukung kegiatan penghijauan.


Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta juga membahas Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai upaya memastikan pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu rencana yang akan dikembangkan adalah adanya pernyataan dari rumah tangga mengenai komitmen pengelolaan sampah. Pernyataan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong setiap keluarga mengambil tanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan.

Melalui kolaborasi antara Pemerintah Desa Kolaka, YPPS Larantuka, Bank Sampah Sesara Nagi, Kader SALAM, dan Pokja PIPA, pengelolaan sampah diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan bersama.

Pelatihan dasar ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari tindakan sederhana: membawa botol minum sendiri, mengurangi barang sekali pakai, memilah sampah dari rumah, mengolah sampah organik, memanfaatkan kembali barang yang masih berguna, dan menyerahkan sampah yang dapat didaur ulang kepada bank sampah.

Pada akhirnya, perubahan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Perubahan dapat dimulai dari rumah, dari kebiasaan sehari-hari, dan dari kesadaran bahwa sampah yang kita hasilkan merupakan tanggung jawab kita sendiri. Dengan semangat 3R dan kolaborasi berbagai pihak, Desa Kolaka dapat terus membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

Kenikir Sulfur: Bunga Berwarna Cerah yang Mempercantik Alam


Kenikir Sulfur: Bunga Berwarna Cerah yang Mempercantik Alam

Di antara beragam tumbuhan berbunga yang menghiasi halaman rumah, kebun, dan ruang terbuka, kenikir sulfur (Cosmos sulphureus) menjadi salah satu bunga yang mudah menarik perhatian. Bunga ini dikenal karena warna bunganya yang cerah, terutama kuning dan jingga, yang tampak mencolok ketika bermekaran. Kehadirannya bukan hanya memperindah lingkungan, tetapi juga memberikan nuansa alami yang segar dan hangat.

Kenikir sulfur merupakan tumbuhan berbunga yang termasuk dalam keluarga Asteraceae. Tanaman ini memiliki bentuk yang relatif sederhana, dengan batang yang dapat tumbuh tegak dan daun yang bertekstur halus serta terbagi-bagi. Bunganya tersusun dalam bentuk kepala bunga dengan bagian tengah berwarna lebih gelap, dikelilingi mahkota bunga berwarna kuning hingga jingga. Kombinasi tersebut membuat kenikir sulfur tampak seperti percikan warna matahari di antara hijaunya pepohonan dan rerumputan.

Salah satu daya tarik utama kenikir sulfur adalah warna bunganya. Kuning cerah memberikan kesan ceria, sedangkan warna jingga menghadirkan suasana hangat dan energik. Ketika tumbuh secara berkelompok, bunga-bunga ini dapat membentuk hamparan warna yang sangat menarik. Pemandangan tersebut sering kali menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang menyukai fotografi alam dan tanaman hias.

Kenikir sulfur juga dikenal sebagai tanaman yang relatif mudah tumbuh. Tanaman ini dapat berkembang pada berbagai kondisi lingkungan yang mendapatkan cukup cahaya matahari. Karena kemampuannya untuk tumbuh dengan cepat dan menghasilkan banyak bunga, kenikir sulfur sering ditemukan di kebun, tepi jalan, lahan terbuka, maupun area yang dibiarkan tumbuh secara alami. Karakter ini menjadikannya salah satu tanaman yang menarik untuk ditanam di ruang terbuka sebagai bagian dari taman berbasis keanekaragaman hayati.

Selain memberikan keindahan visual, bunga kenikir sulfur memiliki peran penting bagi kehidupan serangga. Bunga yang menghasilkan sumber makanan dapat dikunjungi oleh berbagai serangga, termasuk lebah, kupu-kupu, dan serangga penyerbuk lainnya. Kehadiran serangga tersebut menunjukkan bahwa sebuah taman atau ruang terbuka dengan tanaman berbunga dapat menjadi habitat kecil yang mendukung keberlangsungan ekosistem.


Keberadaan tanaman seperti kenikir sulfur juga dapat menjadi bagian dari upaya sederhana untuk memperkenalkan masyarakat, khususnya anak-anak, kepada keanekaragaman hayati. Melalui pengamatan langsung terhadap bunga, anak-anak dapat belajar mengenali bentuk tanaman, mengamati serangga yang datang, serta memahami hubungan antara tumbuhan dan hewan di lingkungan sekitar. Kegiatan sederhana seperti menanam dan merawat bunga dapat menjadi sarana pendidikan lingkungan yang menyenangkan.

Dari sisi estetika, kenikir sulfur juga memiliki potensi yang besar sebagai penghias taman. Bunganya yang berwarna cerah dapat menciptakan suasana yang lebih hidup tanpa membutuhkan desain taman yang rumit. Ketika ditanam bersama tanaman lain dengan warna dan bentuk yang berbeda, kenikir sulfur dapat menciptakan komposisi taman yang lebih beragam dan menarik.

Namun, seperti halnya tanaman lainnya, pertumbuhan kenikir sulfur tetap perlu diperhatikan agar tidak mengganggu tanaman lain di sekitarnya. Pengelolaan tanaman yang tepat penting dilakukan terutama ketika tanaman tumbuh pada area yang memiliki ruang terbatas. Dengan perawatan dan pengelolaan yang sesuai, kehadiran kenikir sulfur dapat memberikan manfaat estetika sekaligus mendukung kehidupan berbagai organisme di lingkungan sekitar.

Lebih jauh, kenikir sulfur mengajarkan bahwa keindahan alam tidak selalu harus hadir dalam bentuk tanaman yang mahal atau sulit dirawat. Bunga yang sederhana pun mampu mengubah suasana sebuah tempat. Warna kuning dan jingganya dapat menghadirkan keceriaan, sementara keberadaannya dapat membantu menciptakan ruang yang lebih ramah bagi serangga penyerbuk.

Pada akhirnya, kenikir sulfur bukan sekadar bunga dengan warna yang indah. Cosmos sulphureus merupakan bagian dari kekayaan tumbuhan yang dapat memperkaya lingkungan sekaligus menjadi media untuk belajar tentang alam. Menanam dan menjaga keberadaan tanaman berbunga seperti kenikir sulfur merupakan langkah kecil yang dapat dilakukan siapa saja untuk menciptakan lingkungan yang lebih hijau, indah, dan mendukung keanekaragaman hayati.

Di tengah semakin padatnya lingkungan permukiman dan berkurangnya ruang hijau, bunga-bunga sederhana seperti kenikir sulfur mengingatkan kita bahwa menciptakan ruang bagi alam dapat dimulai dari hal yang kecil. Sepetak halaman, kebun, atau lahan terbuka yang ditumbuhi bunga dapat menjadi tempat bertemunya keindahan, kehidupan, dan pembelajaran tentang pentingnya menjaga alam.

Keindahan Bunga Panca Warna, Pesona Alam yang Memikat


Keindahan Bunga Panca Warna, Pesona Alam yang Memikat

Bunga selalu memiliki cara tersendiri untuk menghadirkan keindahan. Bentuknya yang beragam, warna yang memikat, serta aroma yang khas menjadikan bunga sebagai salah satu anugerah alam yang mampu memberikan ketenangan bagi siapa saja yang memandangnya. Salah satu bunga yang memiliki daya tarik luar biasa adalah bunga panca warna. Keindahannya tidak hanya terletak pada bentuk bunga, tetapi juga pada perpaduan warna yang membuatnya tampak hidup dan memesona.

Bunga panca warna dikenal karena keunikan warnanya yang dapat menampilkan lebih dari satu warna dalam satu tanaman. Perpaduan warna tersebut membuat bunga ini terlihat sangat menarik, terutama ketika sedang bermekaran. Warna-warna cerah seperti merah, merah muda, putih, kuning, hingga ungu dapat menghiasi bunga dengan kombinasi yang berbeda-beda. Keberagaman warna inilah yang menjadi alasan mengapa bunga panca warna sering menjadi perhatian ketika tumbuh di halaman rumah maupun taman.


Keindahan bunga panca warna semakin terasa ketika bunga-bunganya tumbuh dalam jumlah banyak. Kelopak yang bermekaran secara bersamaan menciptakan pemandangan seperti hamparan warna yang alami. Ketika terkena cahaya matahari pagi, warna bunga terlihat semakin cerah dan memberikan kesan segar. Sementara pada sore hari, cahaya matahari yang lebih lembut membuat suasana di sekitar tanaman terasa hangat dan menenangkan.

Tidak hanya indah secara visual, keberadaan bunga juga memiliki nilai ekologis. Tanaman berbunga dapat menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung kehidupan berbagai serangga, termasuk kupu-kupu dan lebah yang mencari nektar. Kehadiran berbagai makhluk hidup tersebut membuat taman tidak hanya menjadi tempat yang indah, tetapi juga menjadi bagian kecil dari ekosistem alam.

Bagi sebagian orang, merawat bunga panca warna juga menjadi kegiatan yang menyenangkan. Menanam, menyiram, memberikan nutrisi, serta memperhatikan pertumbuhan tanaman dapat menjadi aktivitas sederhana untuk mengisi waktu sekaligus mendekatkan diri dengan alam. Dari proses tersebut, seseorang dapat belajar bahwa keindahan tidak hadir secara instan. Diperlukan perhatian, kesabaran, dan perawatan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan bunga yang indah.


Lebih dari sekadar tanaman hias, bunga panca warna dapat menjadi simbol keberagaman. Berbagai warna yang hadir dalam satu tanaman mengingatkan kita bahwa perbedaan dapat hidup berdampingan dan justru menciptakan keindahan. Setiap warna memiliki karakter tersendiri, tetapi ketika berpadu, semuanya menghasilkan pemandangan yang harmonis.

Keindahan bunga panca warna pada akhirnya mengajarkan kita untuk lebih menghargai alam. Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, melihat bunga yang bermekaran dapat menjadi pengingat bahwa masih banyak hal sederhana di sekitar kita yang mampu memb
erikan kebahagiaan. Merawat dan menjaga tanaman berarti ikut menjaga keindahan lingkungan sekaligus menciptakan ruang hidup yang lebih asri.

Bunga panca warna mungkin terlihat sederhana, tetapi pesonanya mampu memberikan kesan yang mendalam. Perpaduan warna, bentuk, dan suasana yang diciptakannya menjadi bukti bahwa alam memiliki cara yang luar biasa dalam menghadirkan keindahan. Dengan merawatnya, kita bukan hanya menikmati kecantikannya, tetapi juga ikut menjaga salah satu bentuk keindahan alam untuk tetap hadir di sekitar kita.